This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Selasa, 30 April 2013

Kematian Hati



Banyak orang tertawa tanpa (mau) menyadari sang maut sedang mengintainya.Banyak orang cepat datang ke shaf shalat laiknya orang yang amat merindukan kekasih. Sayang ternyata ia datang tergesa-gesa hanya agar dapat segera pergi.Seperti penagih hutang yang kejam ia perlakukan Tuhannya.
Ada yang datang sekedar memenuhi tugas rutin mesin agama. Dingin, kering dan hampa,tanpa penghayatan. Hilang tak dicari, ada tak disyukuri. Dari jahil engkau disuruh berilmu dan tak ada idzin untuk berhenti hanya pada ilmu.Engkau dituntut beramal dengan ilmu yang ALLAH berikan. Tanpa itu alangkah besar kemurkaan ALLAH atasmu.
Tersanjungkah engkau yang pandai bercakap tentang keheningan senyap ditingkah rintih istighfar, kecupak air wudlu di dingin malam, lapar perut karena shiam atau kedalaman munajat dalam rakaat-rakaat panjang.
Tersanjungkah engkau dengan licin lidahmu bertutur, sementara dalam hatimu tak ada apa-apa.Kau kunyah mitos pemberian masyarakat dan sangka baik orang-orang berhati jernih, bahwa engkau adalah seorang saleh, alim, abid lagi mujahid, lalu puas meyakini itu tanpa rasa ngeri.
Asshiddiq Abu Bakar Ra. Selalu gemetar saat dipuji orang. "Ya ALLAH, jadikan diriku lebih baik daripada sangkaan mereka, janganlah Engkau hukum aku karena ucapan mereka dan ampunilah daku lantaran ketidak tahuan mereka", ucapnya lirih.
Ada orang bekerja keras dengan mengorbankan begitu banyak harta dan dana,lalu ia lupakan semua itu dan tak pernah mengenangnya lagi. Ada orang beramal besar dan selalu mengingat-ingatnya, bahkan sebagian menyebut-nyebutnya. Ada orang beramal sedikit dan mengklaim malnya sangat banyak. Dan ada orang yang sama sekali tak pernah beramal,lalu merasa banyak amal dan menyalahkan orang yang beramal, karena kekurangan atau ketidak-sesuaian amal mereka dengan lamunan pribadinya, atau tidak mau kalah dan tertinggal di belakang para pejuang.
Mereka telah menukar kerja dengan kata. Dimana kau letakkan dirimu?
Saat kecil, engkau begitu takut gelap, suara dan segala yang asing. Begitu kerap engkau bergetar dan takut. Sesudah pengalaman dan ilmu makin bertambah, engkaupun berani tampil di depan seorang kaisar tanpa rasa gentar. Semua sudah jadi biasa, tanpa rasa.
Telah berapa hari engkau hidup dalam lumpur yang membunuh hatimu sehingga getarannya tak terasa lagi saat ma'siat menggodamu dan engkau meni'matinya? Malam-malam berharga berlalu tanpa satu rakaatpun kau kerjakan. Usia berkurang banyak tanpa jenjang kedewasaan ruhani meninggi. Rasa malu kepada ALLAH, dimana kau kubur dia?
Di luar sana rasa malu tak punya harga. Mereka jual diri secara terbuka lewat layar kaca, sampul majalah atau bahkan melalui penawaran langsung. Ini potret negerimu : 228.000 remaja mengidap putau. Dari 1500 responden usia SMP & SMU, 25 % mengaku telah berzina dan hampir separohnya setuju remaja berhubungan seks di luar nikah asal jangan dengan perkosaan.
Mungkin engkau mulai berfikir "Jamaklah, bila aku main mata dengan aktifis perempuan bila engkau laki-laki atau sebaliknya di celah-celah rapat atau berdialog dalam jarak sangat dekat atau bertelepon dengan menambah waktu yang tak kauperlukan sekedar melepas kejenuhan dengan canda jarak jauh" Betapa jamaknya 'dosa kecil' itu dalam hatimu.
Kemana getarannya yang gelisah dan terluka dulu, saat "TV Thaghut" menyiarkan segala "kesombongan jahiliyah dan maksiat"? Saat engkau muntah melihat laki-laki (banci)berpakaian perempuan, karena kau sangat mendukung ustadzmu yang mengatakan "

Jika ALLAH melaknat laki-laki berbusana perempuan dan perempuan berpakaian laki-laki, apa tertawa riang menonton akting mereka tidak dilaknat?" Ataukah taqwa berlaku saat berkumpul bersama, lalu yang berteriak paling lantang "Ini tidak islami" berarti ia paling islami, sesudah itu urusan tinggallah antara engkau dengan dirimu, tak ada ALLAH disana?
Sekarang kau telah jadi kader hebat. Tidak lagi malu-malu tampil.
Justeru engkau akan dihadang tantangan : sangat malu untuk menahan tanganmu dari jabatan tangan lembut lawan jenismu yang muda dan segar.
Hati yang berbunga-bunga didepan ribuan massa. Semua gerak harus ditakar dan jadilah pertimbanganmu tergadai pada kesukaan atau kebencian orang, walaupun harus mengorbankan nilai terbaik yang kau miliki.

Lupakah engkau, jika bidikanmu ke sasaran tembak meleset 1 milimeter, maka pada jarak 300 meter dia tidak melenceng 1 milimeter lagi? Begitu jauhnya inhiraf di kalangan awam, sedikit banyak karena para elitenya telah salah melangkah lebih dulu.
Siapa yang mau menghormati ummat yang "kiyai"nya membayar beberapa ratus ribu kepada seorang perempuan yang beberapa menit sebelumnya ia setubuhi di sebuah kamar hotel berbintang, lalu dengan enteng mengatakan "Itu maharku, ALLAH waliku dan malaikat itu saksiku" dan sesudah itu segalanya selesai, berlalu tanpa rasa bersalah?

Siapa yang akan memandang ummat yang da'inya berpose lekat dengan seorang perempuan muda artis penyanyi lalu mengatakan "Ini anakku, karena kedudukan guru dalam Islam adalah ayah, bahkan lebih dekat daripada ayah kandung dan ayah mertua?"

Akankah engkau juga menambah barisan kebingungan ummat lalu mendaftar diri sebagai 'alimullisan (‘alim di lidah)? Apa kau fikir sesudah semua kedangkalan ini kau masih aman dari kemungkinan jatuh ke lembah yang sama?
Apa beda seorang remaja yang menzinai teman sekolahnya dengan seorang alim yang merayu rekan perempuan dalam aktifitas da'wahnya? Akankah kau andalkan penghormatan masyarakat awam karena statusmu lalu kau serang maksiat mereka yang semakin tersudut oleh retorikamu yang menyihir? Bila demikian, koruptor macam apa engkau ini? Pernah kau lihat sepasang mami dan papi dengan anak remaja mereka. Tengoklah langkah mereka di mal. Betapa besar sumbangan mereka kepada modernisasi dengan banyak-banyak mengkonsumsi produk junk food, semata-mata karena nuansa "western-nya". Engkau akan menjadi faqih pendebat yang tangguh saat engkau tenggak minuman halal itu, dengan perasaan "lihatlah, betapa Amerikanya aku". Memang, soalnya bukan Amerika atau bukan Amerika, melainkan apakah engkau punya harga diri.

Kemusrikan




Kemusyrikan sudah demikian membudaya, sehingga menjelma menjadi peradaban,
bahkan dikalangan sebagian besar kaum muslimin menjadi agama yang digunakan untuk
mendekatkan diri kepada Allah.
Pemujaan kepada selain Allah oleh sebagian kaum muslimin dari berbagai lapisan
dengan coraknya yang bermacam-macam sudah menjadi keharusan yang mutlak.
Mulai dari jimat-jimat, amalan-amalan, rajah-rajah, pengisian-pengisian, pemujaan-
pemujaan terhadap kuburan, ilmu-ilmu kekebalan dan pengasihan yang berlatar
belakang dzikrullah, dunia per-jin-an perewangan, perdukunan dan berbagai bentuk
kemusyrikan lain.
Inilah sebab utama bagi datangnya musibah yang menimpa kaum Muslimin secara
bertubi-tubi dan beragam bentuknya. Perpecahan, kehinaan, ketertindasan, ekonomi
morat-marit, situasi politik sangat meresahkan dan berbagai madzab lain yang
ditimpakan Allah kepada umat Islam, tidak lain karena mereka umumnya telah berpaling
dari tauhidullah dan terperosok ke dalam pekatnya kegelapan kemusyrikan.
Sementara itu tokoh-tokoh ummat Islam yang mengaku berjuang untuk beramar
ma'ruf nahi mangkar, banyak yang tidak peduli dengan permasalahan mendasar
ini. Bahkan tidak jarang mereka justru ikut terbawa arus memasuki pusaran bid'ah
syirkiyah.
Disalin dari majalah As-Sunnah 09/IV/1421H, hal. 20 - 25.

Sebab ternyata yang diperjuangkannya adalah kedudukan politik sehingga dasar-
dasar pertimbangannya adalah logika dan dugaandugaan serta perasaan-perasaan
politik. Agama dikesampingkan, agama hanya dijadikan sebagai pembenar bagi langkah-
langkah politiknya. Mereka hanya ber kir untuk kepentingan duniawi bagi dirinya dan
kelompoknya saja. Tidak peduli pada nasib ummat yang sedang menuju ke nereka.
Karena itu, akibat yang ditimbulkannya adalah kekacauan demi kekacauan. Tidak
pernah sampai pada kemaslahatan yang diangankan.
Berikut ini adalah sedikit contoh saja dari sekian banyak kemusyrikan yang merajalela:
1. Ngalap Berkah Pada Petilasan/Kuburan Kyai atau Wali
Adalah menjadi hal yang membudaya bahkan dianggap peribadatan yang sangat afdhal
bahwa pada bulan-bulan atau hari-hari tertentu, misalnya bulan Mulud, menjelang
Ramadhan atau bulan-bulan/hari-hari lain. Banyak orang Islam berbondong-bondong
dari berbagai tempat ke petilasan-petilasan/ kuburan-kuburan kyai, orang-orang shaleh
atau yang dianggap wali.
Mereka datang dari tempat yang cukup jauh dengan mencurahkan tenaga kiran dan
harta. Tidak peduli berapa banyak harta yang akan terbuang untuknya. Padahal orang
yang paling suci dan paling terhormat, yaitu Rasulullah telah bersabda:
Janganlah kamu mengharuskan berpergian (untuk ibadah / berziarah)
kecuali ke tiga masjid: Masjidil Haram, Masjidku ini (musjid Nabawi) dan
Masjidil Aqsha (Muttafaq 'Alaih)
Jadi, kecuali ketiga masjid yang disebutkan dalam hadits di atas, Rasulullah telah
melarang umatnya untuk sengaja mengharuskan melakukan perjalanan dalam rangka
peribadatan.
Maka hanya dengan melakukan ziarah-ziarah ke kuburan-kuburan orang yang
dianggap wall dari tempat-tempat yang jauh itu sudah merupakan pelanggaran terhadap
larangan Rasulullah, di samping juga merupakan tindakan bid'ah karena Rasulullah
dan para shahabatnya tidak pernah menjalankannya. Jika memang itu balk, apa lagi
merupakan peribadatan tentu sudah dijalankan oleh Rasulullah dan para shahabatnya.
Sebab mereka adalah orang yang paling bersemangat mengejar kebaikan. Tidak ada
satupun celah kebaikan yang ditinggalkan oleh Nabi dan para shahabatnya.
Apalagi, ternyata bahwa ziarah-ziarah ke kuburan-kuburan / petilasan-petilasan para
wall itu dimaksudkan untuk ngalap berkah,

2. meminta-minta kepada orang yang telah
mati dan mencari syafa'at. Jika demikian halnya, maka jelas bahwa itu adalah syirik
akbar.
Apabila orang tidak bertaubat dari kegiatan ini dan mati dalam keadaan demikian,
maka Allah tidak akan mengampuninya, kekal di dalam neraka,Wal 'iyadzu billah. Allah
berfrrman:
Sesungguhnya Allah tidak mengampuni perbuatan dosa syirik kepada-Nya,
dan Allah mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa saja yang
dikehendaki-Nya. (an-Nisa': 48)
Mereka mestinya menyadari bahwa apa yang dilakukannya tidak berbeda dengan apa
yang dilakukan kaum Musyrikin jahiliyah pada masa Nab, yaitu tentang apa yang
dikisahkan oleh Allah dalam rman-Nya
Tidakkah kamu memperhatikan Lata, Uzza dan yang ketiga adalah Manat?
(an-Najm: 19-20)
Tiga berhala yang disembah oleh orang-orang jahiliyah dengan cars ngalap berkah,
meminta-minta dan mencari syafa'at. Salah satu berhala itu yakni Lata, oleh sebagian
ulama diantaranya Ibnu Abbas, Ibnu Zubair, Mujahid, dan Humaid dibaca Latta dengan
tasydid, artinya orang yang pada saat hidupnya terkenal sebagai tukang membikin
makanan dari adonan gandum yang kemudian disajikan bagi para pendatang yang
berthawaf dan beribadah di Baitullah.
Maka ia dianggap sebagai orang berjasa yang ketika mati lain diabadikan menjadi
1.berhala yang bernama Lata.
Nah, mudah-mudahan orang dapat mengerti persamaan kasus di atas, kemudian
menyadari dan meninggalkannya. Karena hal itu termasuk penyembahan kepada selain
Allah.
2. Mencari Kesaktian Lewat AmalanAmalan Dzikir Atau Yang Lainnya
Yang juga membudaya dan menjadi trend disemua lapisan masyarakat; baik tua maupun
muda, laki-laki maupun perempuan, bodoh maupun pintar, awam maupun alim, rakyat
maupun aparat, "orang yang dianggap ulama" maupun Umara, adalah membekali diri
dengan "ngelmu", kesaktian dan kekebalan.
1Lihat Fathul Majid Syarh Kitab at-Tauhid, bab Man Tabarraka bi Syajarah an HajarWa Nahwihima.
3
Ada yang dengan cara-cara klasik kebatinan, baik dengan istilah black magic (ilmu
hitam) maupun white magic (ilmu putih). Ada pula yang dengan cara-cara dzikir
dan amalan-amalan yang mengandung bacaan-bacaan wirid. Cara yang terakhir ini
banyak mengelabuhi umat Islam. Karena seakan-akan Islami dan tidak syirik. Padahal
hakikatnya sama: Syirik.
Amalan-amalan dzikir dan wirid itu pada hakikatnya hanya sebagai rumus atau kode
untuk membuka hubungan dengan alam Jin. Hal yang tidak pernah dilakukan oleh
Rasulullah maupun para Shahabatnya.
Dengan demikian, penggunaan dzikir dan wirid semacam itu, di samping tidak
berdasarkan tuntunan atsar, juga menyimpang dari tujuan beribadah kepada Allah.
Akhirnya menjadi syirik karena dzikir tersebut digunakan untuk meminta sesuatu kepada
selain Allah, hal yang hanya menjadi kewenangan Allah saja. Allah ber rman:
Sesungguhnya ada beberapa orang laki-laki dari kalangan manusia meminta
perlindungan kepada beberapa laki-laki diantara jin, maka jin itu
menambahkan rasa takut / dosa kepada manusia. (al-Jin: 6)
Dalam menafsirkan ayat ini, Ibnu Katsir berkata: 2
"Maksudnya (Jin-jin itu mengatakan) kami melihat bahwa kami mempunyai
kelebihan atas manusia, sebab mereka telah meminta perlindungan diri
kepada kami. Maksudnya, ketika manusia melewati suatu lembah atau
padang Sahara yang dianggap angker (mereka meminta perlindungan diri
kepada Jin jin).
Seperti halnya kebiasaan orang Arab pada jaman jahiliyah, mereka meminta
perlindungan diri kepada penggede jin yang mbau reksa tempat angker (yang
mereka singgahi) itu supaya jin-jin di tempat tersebut tidak menimpakan
kesulitan kepada mereka?" 3
Mula Ali Qari al-Hana juga mengatakan:
"Tidak boleh meminta perlindungan kepada jin. Sesungguhnya Allah telah
mencela orang-orang ka r disebabkan hal yang demikian."

Dan (ingatlah) hari diwaktu Allah menghimpunkan mereka semuanya,
(dan Allah ber rman): "Hai golongan jin, sesangguhnya kamu telah
banyak (menyesatkan) manusia", lalu berkatalah kawan-kawan mereka
dari golongan manusia: "Ya Rabb kami, sesangguhnya sebagian dari
kami telah mendapat kesenangan dari sebagian yang lain, dan kami telah
sampai kepada waktu yang telah Engkau tentukan bagi kami". Allah
ber rman: "Neraka itulah tempat tinggal kamu, sedangkan kamu kekal di
dalamnya, kecuali kalau Allah menghendaki lain. Sesungguhnya Rabbmu
Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui." (al-An'am: 128)
Maksud kesenangan yang didapat manusia dari jin adalah terpenuhinya
kebutuhan-kebutuhan manusia (yang dimintakan lewat jin), dan patuhnya
jin mengikuti perintah-perintah manusia serta patuhnya jin menyampaikan
berita-berita ghaib.
Sedangkan kesenangan yang didapat jin dari manusia adalah pengagungan
manusia terhadap jin, serta permintaan perlindungan dan ketundukan
manusia kepada jin".
Imam Ibnu Qayyim mengatakan,
"Siapa yang menyembelih binatang diperuntukkan bagi setan, meminta-
minta kepada setan, meminta perlindungan (isti'adzah) kepada setan dan
mendekatkan din (taqarub) kepada setan dengan melakukan apa yang disukai
setan, berarti ini telah menyembah setan, sekalipun ia tidak membahasakan
hal itu sebagai penyembahan dan hanya membahasakan bahwa setan
dijadikan khadam. Tetapi sebenarnya, justeru setanlah yang menjadikannya
sebagai khadam bagi setan. Akhirnya ia menjadi khadam setan dan menjadi
penyembahnya.
Dengan begitu, setanpun menjadi khadam yang melayani manusia. Tetapi
pelayanan setan sebagai khadam bagi manusia bukan pelayanan yang bersifat
penyembahan. Sebab setan tidak pernah akan tunduk kepada manusia dan
tidak pernah pula akan menyembah manusia. Tidak sebagaimana halnya
manusia kepada setan."
Jadi jelas mencari kesaktian, kedigdayaan dan kekebalan tubuh dengan menggunakan jin
dan perewangan adalah syirk akbar. Pelakunya tidak akan diampuni oleh Allah kecualidengan taubat. Sekalipun menurut pengakuan orang, jin yang dijadikan perewangan
adalah jin Muslim dan sekalipun cara-cara yang ditempuh menggunakan wirid-wirid
tertentu. Allah al-Musta'an.
 Meminta Bantuan Kepada Arwah Rasul, Wali Atau Tokoh
Meminta bantuan kepada arwah Rasul, wali atau tokoh-tokoh, ini bukan hanya menjadi
kebiasaan dan keyakinan yang membudaya, tetapi bahkan dihidup-hidupkan sebagai
kesenian budaya. Sehingga kegiatan itu betul-betul menyatu dan mendarah daging
dalam jiwa dan keyakinan sebagian besar masyarakat.
Dapat disaksikan dibanyak tempat adanya upacara-upacara serta kesenian-kesenian
ritual yang berisi kegiatan syaithani ini. Bahkan dalam nyanyian-nyanyian dan
senandungnya sering terdengar ungkapanungkapan seperti: "Al-madad, al-madad ya
Rasul". Artinya: "Bantuan, bantuan wahai Rasul." Maksudnya meminta bantuan
kepada Rasul yang telah wafat. Tentu ini adalah syirik akbar.
Dan peringatan-peringatan maulid Nabi merupakan media yang subur untuk kegiatan-
kegiatan semacam ini. Pujian-pujian kepada nabi yang disenandungkan sarat dengan isi
kemusyrikan, misalnya:
Wahai lmam para Rasul, wahai sandaranku
Engkau adalah pintu Allah dan gantunganku 5
Begitu pula bait-bait sesudahnya yang berisi pujian berlebihan hingga mendudukan
Rasulullah seperti Tuhan. Subhanallah `amma Yusyrikun.
Kadang ada pula masyarakat yang datang ke kuburan tokoh, lalu katanya dapat
berdialog dengan arwah tekoh tersebut untuk meminta bantuan. Padahal yang bersuara
adalah jin (setan) dengan memyerupai suara tokoh dimaksud agar manusia terperosok
dalam keka ran.
 Akik, Sabuk, dan Qur’an Stambul Sebagai Jimat
Ketika akik diyakini memiliki daya magis, atau telah diisi dengan amalan-amatan
mantera oleh dukun (atau oleh dukun yang bernama kyai bersorban) hingga akik
tersebut diyakini berkekuatan magis. Maka orang masih berkelit dengan argumen-
argumen; "Bahkan number kekuatan sebenarnya adalah Allah, sedangkan akik tersebut
hanya wasilah raja." Karenanya orang beranggapan tidak syirik.

Terlebih lagi yang menjadi pialang akik-akik tersebut adalah orang-orang yang
dianggap ulama' atau ahli agama. Sehingga sempurnalah selubung syubhat yang
menutupi kemusyrikan tersebut.
Begitu pula sabuk yang telah diisi dengan rajah-rajah, hijib-hijib atau mantera-
mantera. Pelaku atau pemiliknya adalah pelaku kemusyrikan. Dan pengisi sabuk
tersebut adalah dukun yang harus dijauhi, sekalipun berkedok orang yang bersorban.
Tidak berbeda pula dengan Qur'an stambul, sebuah Qur'an (yang biasanya)
berukuran kecil mungil dan huruf-hurufnya tidak terbaca kecuali (barangkali) dengan
kaca pembesar. Buku yang dibikin menyerupai al-Qur'an dalam ukuran terlalu kecit ini
diyakini bisa menolong pemiliknya dari marabahaya.
Mungkin benda yang meyerupai al-Qur'an itu sengaja dibuat oleh WALI-WALI
SETAN untuk mengelabuhi manusia supaya mudah terjerumus dalam kemusyrikan.
Orang akan berdalih: "Bukankah ini Qur'an? dan bukankah alQur'an merupakan obat?"
Nah al-Qur'an sebagai obat disalah artikan maknanya untuk kepentingan jimat. Dan
itu adalah syirik.
Dalam sebuah hadits riwayat Ahmad, Rasulullah bersabda:
Barang siapa yang mengalungkan Tamimah, maka sesungguhnya ia telah
Masyrik. (Hadits Shahih)
Tamimah, menurut al-Mundziri artinya untaian kalung yang dipakai guna mengusir
penyakit. (Keyakinan terhadap tamimah) ini adalah kejahilan dan kesesatan. Sebab
tidak ada sesuatupun yang dapat menghalangi atau menolak apapun kecuali Allah. 6
Menurut Abu as-Sa'adaat:
Tamimah adalah untaian kalung yang dahulu oleh orang Arab dipakaikan kepada anak-
anaknya agar terlindungi dari ganguan setan.
Tetapi hal ini kemudian diberantas oleh Islam. 7
Berdasarkan hadits ini, memakai Tamimah atau kalung apa saja untuk tujuan
perlindungan diri dari ganguan setan, ganguan roh jahat, penyembuhan penyakit atau
tolak bala', adalah termasuk syirik yang harus diberantas.
Demikianlah beberapa contah kemusyrikan yang sangat membudaya di tengah
masyarakat. Di sana masih banyak contoh-contoh lain yang sangat membelenggu don
mencengkaram keyakinan masyarakat.

Secara garis besar contoh-contoh itu antara lain: menyakini kesialan angka 13,
keyakinan jika menabrak kucing maka akan celaka, keyakinan para sopir jika melewati
jalan angker harus berpamitan terlebih dahulu kepada yang Mbau rekso tempat angker
tersebut dengan membunyikan klakson, keyakinan bahwa tiap malam jum'at kliwon
harus memberikan sesajian diperempatan-perempatan jalan, adat istiadat menginjak
telor dan segala kegiatan yang mengiringi bagi pengantin, memasang dekorasi dengan
tandanan pisang pada pinto masuk halaman dalam pests pengantin, brobosan (melewati
bawah) jenazah yang akan diberangkatkan antak di kubur, menyakini kebenaran para
dukun dan tiara normal, menyakini bahwa seekor kerbau dapat memberikan berkah,
menyakini bahwa pusaka atau kereta keraton dapat memberikan berkah sehingga perlu
dimandikan dan airnya dijadikan rebutan, dan berbagai contoh kemusyrikan lain yang
tidak mungkin disebutkan satu persatu.
Apabila hal-hal di atas masih membelenggu keyakinan masyarakat, menjadi budaya
dan tidak ada upaya untuk memberantasnya, maka umat ini tidak dapat diharapkan
akan keluar dari kesulitan-kesulitan dan bencana-bencana. Di dunia akan sengsara dan
di akhirat akan binasa. Nas'alullah at-Tau q.
Penutup
Sebagai penutup, di bawah ini adalah kisah yang harus dijadikan ibrah:
Dart Abu Waqit al-Laitsi, ia mengatakan: Kami keluar bersama Nabi untuk
berperang ke Hunain, kami waktu itu baru saja meninggalkan keka ran
(baru masuk Islam), sedangkan kaum Musyrikin naempunyai sebuah pohon
Sidrah yang dijadikan tempat i'tihaf (bersemedi) mereka, dan mereka senang
menggantungkan senjatasenjata mereka (supaya rnenjadi senjata sakti) pada
pohon itu. Pohon itu disebut sebagai pohon yang memiliki keramat.
Kemudian hami melewati pohon itu.
Maka kami berkata kepada Rasulullah:
"Ya Rasalullah, buatkanlah untuk kami sesuatu yang dik-
eramatkan sebagaimana mereka (kaum Musyrikin) mempunyai
sesuatu yang dikeramatkan".
Maka Rasulullah menjawab:
Allahu Akbar, ini merupakan jalan / kebiasaan (yang sadah terjadi
sejak dahulu-pen). Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya,
kalian telah berkata seperti apa yang telah dikatakan oleh Barn
Israil kepada Musa, yaitu (yang tersebut dalam surat al-A'raf: 138
artinya):
'Buatkanlah untuk kami berhala sebagaimana mereka mempunyai
berhala-berhala. Musa menjawab: Sesungguhnya kalian benar-
benar orang yang bodoh". Sunggah kalian benar-benar
mengikuti jalan /kebiasaan orang-orang sebelum kalian." 8
Kisah di atas merupakan kisah yang dapat memberikan pelajaran bagi orang-orang
yang ber kir. Orang harus merasa takut terjerumus dalam kemusyrikan. Sebab orang
terkadang menganggap baik terhadap sesuatu dan menyangka sebagai taqarrub kepada
Allah, padahal sesuatu itu justru merupakan hal yang paling menjauhkan seseorang dari
rahmat Allah, dan paling potensial mendatangkan murka Allah.
Berdasarkan kisah di atas, juga dapat diambil kesimpulan bahwa istilah atau sebutan
tidak membatasi hakikat suatu masalah. Sekalipun sekarang sebutan Dzatu anwath
(sesuatu yang memiliki keramat) tidak dipakai misalnya, tetapi ternyata hakikat
permasalahanya sama, maka tetap saja merupakan kemusyrikan.
Orang yang musyrik tetap musyrik walaupun ia menamakan kemusyrikannya sebagai
amalan wirid. Meminta-minta kepada orang mati, menyembelih untuk orang mati,
bernadzar untuk orang mati dan sebagainya tetap syirik sekalipun kegiatan-kegiatan itu
diistilahkan sebagai penghormatan atau sebagai ungkapan rasa cinta kepada nabi yang
telah mati.
Rasulullah murka dan menganggap permintaan shahabat akan Dzatu anwath, sama
dengan permintaan Bani Israil kepada Musa akan berhala. Jadi jelas yang menjadikan
ukuran bukan istilahnya, tetapi hakikatnya.
Begitulah, hendaknya contoh-contoh tentang kemusyrikan di alas menjadi bahan
kajian, bahwa bukan hanya itu saja bentuk kemusyrikan, tetapi bisa berkembang dalam
berbagai bentuk lain.
Yang jelas umat Islam harus berhati-hati dan berupaya keras untuk kembali
mempelajari agamanya secara benar kemudian mengamalkannya secara benar supaya
selamat dunia dan akhiratnya.
Alangkah indahnya jika umat manusia hanya beribadah kepada Allah saja, tidakmelakukan kemusyrikan sedikitpun, tidak melakukan penyelewengan-penyelewengan

peribadatan dan bersedia meninggalkan kemaksiatan sekecil apapun.

Kesempurnaan




AGAMA INI TELAH SEMPURNA
Oleh : Al Ustadz Muslim Abu Ishaq*
Kesempurnaan Islam
Islam sebagai satu-satunya agama yang dipilih oleh Allah Ta'ala sebagaimana firman-
Nya :
"Sesungguhnya agama di sisi Allah adalah Islam” (Ali Imran : 19)
Merupakan kebenaran mutlak yang datang dari Allah Ta'ala dan tidak ada kebenaran
selain Islam, maka siapa yang menginginkan selain Islam berarti dia memilih
kebathilan dan dalam keadaan merugi. Allah Ta'ala berfirman :
"Apakah selain agama Allah (Islam) yang mereka inginkan, padahal hanya kepada
Allah-lah berserah diri segala apa yang ada di langit dan di bumi baik dengan tunduk
(taat) maupun dipaksa dan hanya kepada-Nya mereka dikembalikan.” (Ali Imran :
83)
"Dan siapa yang menginginkan selain Islam sebagai agamanya maka tidak akan
diterima darinya agama tersebut dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang
merugi.” (Ali Imran : 85)
Agama yang haq ini telah disempurnakan oleh Allah Ta'ala dalam segala segi, segala
yang dibutuhkan hamba untuk kehidupan dunia dan akhiratnya telah dijelaskan,
sehingga tidak luput satu percakapan melainkan Islam telah mengaturnya. Allah
Ta'ala berfirman :
"Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian dan telah
kusempurnakan nikmat-Ku bagi kalian dan Aku ridha Islam sebagai agama kalian."
(Al Maidah : 3)
* Penulis adalah staf pengajar Ponpes Ihya'us Sunnah DIY, murid Syaikh Muqbil bin Hadi Al Wadi'y
rahimahullah, Yaman.
PDF created with FinePrint pdfFactory trial version http://www.softwarelabs.com
Z MAKTABAH AS SUNNAH
http://assunnah.cjb.net
2
Al Hafidh Ibnu Katsir rahimahullah dalam Tafsir-nya berkata : “Ini merupakan nikmat
Allah yang terbesar bagi ummat ini, dimana Allah telah menyempurnakan bagi
mereka agama mereka sehingga mereka tidak butuh kepada selain agama Islam dan
tidak butuh kepada Nabi selain Nabi mereka shalawatullahi wasalaamu alaihi. Karena
itulah Allah menjadikan Nabi ummat ini (Muhammad shallallahu alahi wasallam, pent.)
sebagai penutup para Nabi dan Allah mengutusnya untuk kalangan manusia dan jin,
maka tidak ada perkara yang haram kecuali apa yang dia haramkan, dan tidak ada
agama kecuali apa yang dia syariatkan. Segala sesuatu yang dia kabarkan adalah
kebenaran dan kejujuran tidak ada kedustaan padanya dan tidak ada penyuluhan.”
(Tafsir Al Quranul Adhim 3/14. Dar Al Ma'rifat)
Pernah datang seorang Yahudi kepada Umar Ibnul Khattab radhiallahu 'anhu lalu ia
berkata : [ Wahai Amirul Mukminin! Seandainya ayat ini :
"Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian dan telah
Kusempurnakan nikmat-Ku bagi kalian dan Aku ridha Islam sebagai agama kalian."
Turun atas kami, niscaya kami akan jadikan hari turunnya ayat tersebut sebagai hari
raya. ]
Maka Umar menjawab : "Sesungguhnya aku tahu pada hari apa turun ayat tersebut,
ayat ini turun pada hari Arafah bertepatan dengan hari Jum'at.” (Riwayat Bukhari
dalam Shahih-nya nomor 45,4407,4606)
Ayat yang menunjukkan kesempurnaan Islam ini memang patut dibanggakan dan hari
turunnya patut dirayakan sebagai hari besar. Namun kita tidak perlu membuat-buat
hari raya baru karena Allah menurunkannya tepat pada hari besar yang dirayakan
oleh seluruh kaum Muslimin, yaitu hari Arafah dan hari Jum'at.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sebagai utusan Allah Ta'ala kepada ummat ini
telah menunaikan amanah dan menyampaikan risalah dari Allah dengan sempurna.
Maka tidaklah beliau shallallahu alaihi wasallam wafat melainkan beliau telah
menjelaskan kepada ummatnya seluruh apa yang mereka butuhkan.
Imam Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya dari Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu, ia
berkata :
"Sungguh Nabi shallallahu alaihi wasallam berkhutbah dihadapan kami dengan suatu
khutbah yang beliau tidak meninggalkan sedikitpun perkara yang akan berlangsung
sampai hari kiamat kecuali beliau sebutkan ilmunya ... ." (Shahih Bukhari nomor
6604)
PDF created with FinePrint pdfFactory trial version http://www.softwarelabs.com
Z MAKTABAH AS SUNNAH
http://assunnah.cjb.net
3
Imam Muslim meriwayatkan dalam Shahih-nya (juz 4 halaman 2217) dari Abu Zaid
Amr bin Akhthab radhiallahu 'anhu, ia berkata :
“Rasullullah shallallahu alaihi wasallam shalat Shubuh bersama kami.(Selesai shalat)
beliau naik ke mimbar lalu berkhutbah di hadapan kami hingga tiba waktu Dhuhur,
beliau turun dari mimbar dan shalat Dhuhur. Kemudian beliau naik lagi ke mimbar lalu
berkhutbah di hadapan kami hingga tiba waktu Ashar, kemudian beliau turun dari
mimbar dan shalat Ashar. (Setelah shalat Ashar) beliau naik ke mimbar lalu
mengkhutbahi kami hingga tenggelam matahari. Dalam khutbah tersebut beliau
mengabarkan pada kami apa yang telah berlangsung dan apa yang akan berlangsung
... ."
Bid'ah Adalah Kesesatan
Dengan kesempurnaan yang dimiliki, syariat Islam tidak lagi memerlukan
penambahan, pengurangan, ataupun perubahan, atau lebih simpelnya hal-hal ini
diistilahkan bid'ah dalam agama yang telah diperingatkan dengan keras oleh
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam sabda beliau :
"Sesungguhnya sebaik-baik ucapan adalah ucapan Allah dan sebaik-baik ajaran
adalah ajaran Rasulullah. Dan sesungguhnya sejelek-jelek perkara adalah sesuatu
yang diada-adakan (dalam agama), karena sesungguhnya sesuatu yang baru diadaadakan
(dalam agama) adalah bid'ah dan setiap bid'ah adalah kesesatan.” (HR.
Muslim no. 867)
Mengapa Bid'ah Dan Pembuatnya Dikatakan Sesat ?
Karena, pertama, bisa jadi pembuat bid'ah itu menganggap ajaran agama ini belum
sempurna hingga perlu penyempurnaan dari hasil pemikiran manusia. Dengan
anggapan demikian berarti ia mendustakan firman Allah Ta'ala yang memberikan
kesempurnaan agama ini.
Kedua, bisa jadi ia menganggap agama ini telah sempurna, namun ada perkara yang
belum disampaikan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, yang berarti ia
menuduh beliau Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam telah berkhianat dalam penyampaian
risalah. Padahal para shahabat seperti Abu Dzar radliallahu anhu mempersaksikan :
"Rasulullah meninggalkan kami dalam keadaan tidak ada seekor burung pun yang
mengepak-ngepakkan kedua sayapnya di udara kecuali beliau menyebutkan ilmunya
pada kami.”
PDF created with FinePrint pdfFactory trial version http://www.softwarelabs.com
Z MAKTABAH AS SUNNAH
http://assunnah.cjb.net
4
Abu Dzar kemudian berkata :
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda : "Tidaklah tertinggal sesuatu yang
dapat mendekatkan ke Surga dan menjauhkan dari Neraka kecuali telah diterangkan
pada kalian.” (HR. Thabrani dalam Mu'jamul Kabir, lihat As Shahihah karya
Syaikh Albani rahimahullah 4/416 dan hadits ini memiliki pendukung dari
riwayat lain)
Imam Malik rahimahullah berkata :
Barangsiapa yang mengada-adakan dalam Islam sesuatu kebid'ahan dan
menganggapnya baik berarti ia telah menuduh Rasulullah telah berkhianat dalam
menyampaikan risalah. Karena Allah telah berfirman : "Pada hari ini telah Aku
sempurnakan bagi kalian agama kalian.” Maka apa yang waktu itu (pada masa
Rasulullah dan para shahabat beliau) bukan bagian dari agama, (maka) pada hari ini
pun bukan bagian dari agama.” (Lihat Al I'tisham oleh Imam Syathibi halaman
37)
Ketiga, bisa jadi pembuat bid'ah itu menganggap dirinya lebih berilmu dibanding
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sehingga dia tahu ada amalan baik yang tidak
diketahui dan tidak diajarkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.
Apakah Teranggap Niat Baik Seseorang Ketika Berbuat Bid'ah ?
Bagaimana bila ada orang yang berkata bahwa ia membuat-buat amalan bid'ah atau
mengerjakannya dengan niat yang baik dan ikhlas karena Allah ? Maka dijawab
bahwa syarat diterimanya suatu amalan tidaklah sekedar niat baik atau ikhlas, namun
juga harus dibarengi dengan Mutaba'ah Ar Rasul (mengikuti Rasulullah Shallallahu
'Alaihi Wa Sallam), adakah contohnya dari beliau atau tidak.
Ibnu Katsir rahimahullah ketika menafsirkan firman Allah Ta'ala (yang artinya) :
"Maka siapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Rabb-nya hendaklah dia
melakukan amal shalih dan janganlah dia menyekutukan Rabb-nya dengan seorang
pun dalam peribadatan kepada-Nya.” (QS. Al Kahfi : 10)
Beliau rahimahullah berkata : [ Firman Allah : " ... hendaklah ia melakukan amal
shalih ... ." Yang cocok/sesuai dengan syariat Allah. Dan firman-Nya : " ... dan
janganlah dia menyekutukan Rabb-nya dengan seorang pun dalam peribadatan
kepada-Nya." Yang diinginkan dalam beribadah tersebut adalah wajah Allah saja
tanpa menyekutukan-Nya. Dua rukun diterimanya amalan adalah (pertama) harus
dilakukan ikhlas karena Allah dan (kedua) amalan tersebut benar dan sesuai dengan
syariat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam." (Tafsir Ibnu Katsir 3/114) ]
PDF created with FinePrint pdfFactory trial version http://www.softwarelabs.com
Z MAKTABAH AS SUNNAH
http://assunnah.cjb.net
5
Terhadap firman Allah Ta'ala : "Dialah yang menciptakan kematian dan kehidupan
agar Dia menguji kalian siapa yang paling baik di antara kalian amalannya.” (QS. Al
Mulk : 2)
Al Fudlail bin Iyadl rahimahullah berkata : “Amalan yang paling baik adalah amalan
yang paling ikhlas dan paling benar/tetap. Karena amalan yang hanya disertai
keikhlasan namun tidak benar maka amalan itu tidak diterima. Dan sebaliknya, bila
amalan itu benar namun tidak dibarengi keikhlasan juga tidak akan diterima.”
Pernah datang tiga orang shahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam ke rumah istri-istri
beliau guna menanyakan tentang ibadah beliau. Tatkala diberitahukan kepada
mereka, mereka menganggapnya kecil dan mereka berkata :
"Apa kedudukan kita dibanding Nabi shallallahu alaihi wasallam, beliau telah diampuni
dosa-dosanya yang telah lalu dan yang belakangan.” Berkata salah seorang dari
mereka : "Aku akan shalat sepanjang malam tanpa tidur selamanya.” Yang kedua
berkata : "Aku akan berpuasa sepanjang tahun dan tidak akan berbuka.” Yang
terakhir berkata : "Aku akan menjauhi wanita maka aku tidak akan menikah
selamanya.” Lalu datanglah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan ucapan-ucapan
mereka disampaikan kepada beliau, maka beliau bersabda : "Apakah kalian yang
mengatakan begini dan begitu ?! Ketahuilah! Demi Allah, aku adalah orang yang
paling takut kepada Allah dibanding kalian dan paling bertakwa kepada-Nya, akan
tetapi aku puasa dan aku berbuka, aku shalat dan aku tidur, dan aku juga menikahi
wanita. Siapa yang benci (berpaling) terhadap sunnahku maka ia bukan dari
golonganku (orang-orang yang menjalankan sunnahku).” (HR. Bukhari dan
Muslim)
Kalau kita lihat keberadaan tiga orang ini maka kita dapatkan niatan mereka yang
baik yaitu untuk bersungguh-sungguh melakukan ibadah kepada Allah, namun apakah
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam menyetujui perbuatan mereka? Jawabannya
bisa kita lihat dari pernyataan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas.
Benar sekali apa yang diucapkan oleh shahabat Nabi, Abdullah bin Mas'ud
radhiyallahu anhu : "Sederhana dalam sunnah lebih baik daripada bersungguhsungguh
dalam perbuatan bid'ah."
Orang-orang yang mengadakan bid'ah itu walaupun niatnya baik tetap tertolak
dengan dalil hadits Nabi shallallahu alaihi wasallam :
"Siapa yang mengada-adakan sesuatu amalan di dalam urusan (agama) kami ini
dengan yang bukan bagian dari agama ini maka amalan itu tertolak." (HR. Bukhari
dan Muslim dalam Shahih keduanya)
PDF created with FinePrint pdfFactory trial version http://www.softwarelabs.com
Z MAKTABAH AS SUNNAH
http://assunnah.cjb.net
6
Dan beliau bersabda :
"Siapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami maka
amalan itu tertolak." (HR. Muslim)
Karena itu yang wajib bagi kaum Muslimin adalah mencukupkan diri dengan ibadahibadah
yang telah disyariatkan oleh Allah dan Rasul-Nya, tanpa menambah ataupun
menguranginya.
Adakah Bid'ah Hasanah ?
Tidak ada dalam agama ini istilah pembagian bid'ah menjadi bid'ah hasanah (bid'ah
yang baik) dan bid'ah sayyi'ah (bid'ah yang jelek) karena Rasulullah shallallahu alaihi
wasallam telah menegaskan :
"Setiap bid'ah adalah sesat dan setiap kesesatan tempatnya di neraka.” (HR. Muslim
dalam Shahih-nya, sedang tambahannya diriwayatkan dalam Sunan Nasa'i)
Lalu bagaimana dengan ucapan Umar radhiallahu anhu ketika melihat pelaksanaan
shalat tarawih secara berjama'ah : "Sebaik-baik bid'ah adalah perbuatan ini.”
(Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Shahih-nya)
Maka kita katakan bahwa yang dimaukan oleh Umar dengan ucapannya tersebut
adalah pengertian bid'ah secara bahasa, bukan secara syari'at, karena Umar
mengucapkan perkataan demikian sehubungan dengan berkumpulnya manusia
dibawah satu imam dalam pelaksanaan shalat tarawih, sementara shalat tarawih
secara berjama'ah telah disyariatkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam
dimana beliau sempat mengerjakannya selama beberapa malam secara berjama'ah
dengan para shahabatnya, kemudian beliau tinggalkan karena khawatir hal itu
diwajibkan atas mereka. Sehingga setelah itu manusia mengerjakan tarawih secara
sendiri-sendiri atau dengan jama'ah yang terpisah-pisah (berbilang/berkelompokkelompok).
Lalu pada masa pemerintahannya Umar radhiallahu 'anhu, Umar radhiallahu 'anhu
mengumpulkan mereka dibawah pimpinan satu imam sebagaimana pernah dilakukan
di zaman Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam, karena wahyu telah berhenti turun
dengan meninggalnya beliau Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam dan berarti tidak ada lagi
kekhawatiran diwajibkannya perkara tersebut. Dengan demikian Umar radhiallahu
'anhu menghidupkan kembali sunnah tarawih secara berjama'ah dan ia
mengembalikan sesuatu yang sempat terputus, maka teranggaplah perbuatannya
tersebut sebagai bid'ah dalam pengertian bahasa, bukan pengertian syari'at,
karena bid'ah yang syar'i hukumnya haram, tidak mungkin Umar radhiallahu 'anhu
ataupun selainnya dari kalangan shahabat melakukan hal tersebut, sementara mereka
PDF created with FinePrint pdfFactory trial version http://www.softwarelabs.com
Z MAKTABAH AS SUNNAH
http://assunnah.cjb.net
7
tahu peringatan keras dari Nabi radhiallahu 'anhu akan perbuatan bid'ah. (Dzahirut
Tabdi’, halaman 43-44)
Adapun di masa Abu Bakar radiallahu anhu, sunnah tarawih secara berjama'ah ini
tidak sempat dihidupkan karena khilafah beliau hanya sebentar dan ketika itu beliau
disibukkan dengan orang-orang yang murtad dan enggan membayar zakat, demikian
keterangan Imam Syathibi dalam kitabnya Al I'tisham, wallahu a'lam.
Semoga Allah merahmati shahabat Nabi, Abdullah Bin Umar radiallahu anhuma yang
berkata :
"Setiap bid'ah adalah sesat sekalipun manusia memandangnya baik.”
Hukum Membuat Bid'ah Dalam Agama
Hukum membuat bid'ah dalam agama adalah haram berdasarkan Al Qur'an, As
Sunnah, dan ijma’ (kesepakatan ulama), karena membuat bid'ah berarti menetapkan
syariat yang menyaingi syariat Allah, yang berarti menentang dan mengadakan
permusuhan terhadap Allah dan Rasul-Nya. (Hurmatul Ibtida' fid Dien wa Kullu
Bid'atin Dlalalah, Abu Bakar Jabir Al Jazairi, halaman 8)
Contoh Bid'ah Dalam Hari Raya/Hari Besar Yang Disandarkan
Kepada Islam
Dalam syariat agama yang mulia ini hanya dikenal adanya dua hari raya/ied,
sebagaimana disebutkan dalam hadits riwayat Anas bin Malik radhiallahu 'anhu :
Nabi shallallahu alaihi wasallam datang ke Madinah dan ketika itu penduduk Madinah
memiliki dua hari raya yang mereka bisa bersenang-senang di dalamnya pada masa
jahiliyyah, maka beliau bersabda : "Aku datang pada kalian dalam keadaan kalian
memiliki dua hari raya yang kalian bersenang-senang di dalamnya pada masa
jahiliyyah. Dan sungguh Allah telah menggantikan bagi kalian dua hari tersebut
dengan yang lebih baik yaitu hari Nahr (Iedul Adha) dan Iedul Fitri.” (HR Ahmad,
Abu Daud, Nasa'i dan Baghawi)
Iedul Adha dan Iedul Fitri lebih baik daripada dua hari raya yang dimiliki penduduk
Madinah karena Iedul Adha dan Iedul Fitri ditetapkan dengan syariat Allah yang
dipilih-Nya untuk hamba-Nya dan kedua hari raya tersebut mengiringi dua amalan
besar dalam Islam yaitu haji dan puasa. Sedangkan hari Nairuz dan Mahrajan
ditetapkan dengan pilihan manusia. (Ahkamul Iedain fis Sunnatil Muthahharah,
halaman15-16)
PDF created with FinePrint pdfFactory trial version http://www.softwarelabs.com
Z MAKTABAH AS SUNNAH
http://assunnah.cjb.net
8
Apabila kita telah mengetahui bahwa hari raya dalam Islam hanya ada dua, maka
selain dari dua hari raya ini adalah hari raya yang diada-adakan (bid'ah), kemudian
dinisbahkan kepada agama. Contohnya seperti :
- Isra' Mi'raj. Perayaan ini meniru perayaan Paskah (kenaikan Isa Al Masih) umat
Nashrani, padahal kita dilarang meniru orang-orang kafir, Nabi Shallallahu 'Alaihi
Wa Sallam sendiri memperingatkan : "Siapa yang meniru-niru suatu kaum maka ia
termasuk golongan kaum tersebut.”
- Perayaan Nuzul Qur'an
- Perayaan tahun baru Islam 1 Muharram, yang meniru perayaan tahun baru
Masehi.
- Maulid Nabi, yang meniru Nashrani dalam perayaan Natal.
- Dan lain-lain.
Bila ada yang mengatakan bahwa orang-orang yang mengadakan dan merayakan
perayaan seperti Maulid Nabi adalah karena cinta kepada Nabi shallallahu alaihi
wasallam dan mengagungkan beliau, maka kita jawab bahwa para shahabat Nabi
shallallahu alaihi wasallam dan generasi terbaik setelah mereka (generasi Salafus
Shalih) tidak pernah melakukan hal tersebut, padahal mereka adalah orang-orang
yang tidak diragukan kecintaanya kepada Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam dan
tidak disangsikan pengagungan mereka kepada beliau, serta mereka adalah orangorang
yang sangat bersemangat untuk melakukan amalan kebajikan. Seandainya
perayaan Maulid itu baik, niscaya mereka adalah orang pertama yang melakukannya.
Dan demikian yang kita katakan terhadap setiap amalan yang diada-adakan dalam
agama ini. Seandainya amalan itu baik maka para pendahulu kita yang shalih
tentunya telah mendahului kita dalam mengamalkannya.
Ketahuilah, pernyataan cinta kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bukan
diwujudkan dengan mengadakan perayaan seperti Maulid, namun bukti cinta kepada
beliau diwujudkan (dibuktikan) dengan mengikuti beliau, menaati, mengikuti
perintahnya, menghidupkan sunnahnya baik secara lahir maupun batin, menyebarkan
dakwah beliau, berjihad untuk menegakkan dakwah baik dengan hati, lisan, maupun
anggota badan. Inilah jalan yang ditempuh oleh As Sabiqunal Awwaluna dari
kalangan Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan
baik.
PDF created with FinePrint pdfFactory trial version http://www.softwarelabs.com
Z MAKTABAH AS SUNNAH
http://assunnah.cjb.net
9
Jalan Keluar Dari Kebid'ahan
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menyampaikan dalam banyak haditsnya jalan
keluar dari kebid'ahan jauh sebelum terjadinya bid'ah. Beliau bersabda :
"Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara yang kalau kalian berpegang teguh
dengannya niscaya kalian tidak akan tersesat sepeninggalku selamanya, yaitu
Kitabullah dan Sunnahku.” (HR. Hakim dan dishahihkan dalam Shahihul Jami’
oleh Syaikh Albani rahimahullah)
Beliau juga menasehatkan :
"Aku wasiatkan kepada kalian untuk takwa kepada Allah Azza wa Jalla, taat dan
mendengar sekalipun kalian dipimpim oleh seorang hamba sahaya karena siapa saja
diantara kalian yang hidup sepeninggalku niscaya dia akan melihat perselisihan yang
banyak. Maka (ketika itu) wajib atas kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan
sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk setelahku. Gigitlah dengan gigi
gerahammu dan hati-hatilah kalian dari perkara-perkara yang baru karena setiap
yang bid'ah itu sesat.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi, ia berkata hadits hasan
shahih)
Satu-satunya jalan menyelamatkan diri dari bid'ah adalah berpegang teguh pada
dengan Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam serta
Petunjuk Salafus Shalih, pemahaman mereka, manhaj mereka, dan pengamalan
mereka terhadap dua wahyu, karena mereka adalah orang yang paling besar cintanya
kepada Allah dan Rasul-Nya, paling kuat ittiba'-nya, paling dalam ilmunya dan paling
luas pemahamannya terhadap Al Qur'an dan As Sunnah.
Dengan cara ini seorang Muslim akan mampu berpegang teguh dengan agamanya
dan bebas dari segala kotoran yang mencemari dan jauh dari semua kebid'ahan yang
menyesatkan. Dan jalan ini mudah bagi yang dimudahkan oleh Allah Subhanahu wa
Ta'ala.
Wallahu a'lam bishawwab.

Senin, 29 April 2013

Kehilangan

Di hadapan orang yang kau cintai musim dingin akan berubah menjadi musim semi yang indah Dihadapan orang yang kau sukai musim dingin tetap musim dingin , hanya suasananya lebih indah sedikit. 

Dihadapan orang kau cintai, jantungmu tiba-tiba berdebar lebih cepat
Dihadapan orang yang kau sukai ,kau nhanya merasa senang dan gembira saja. Apabila engkau melihat pada mata yang engkau cintai,matamu akan berkaca-kaca Apabila engkau melihat kepada mata yang engkau sukai, engkau hanya teRsenyum saja 

Dihadapan orang yang kau cintai, kata-kata yang keluar berasal dari perasaan yang paling dalam Dihadapan orang yang sukai, kata-kata hanya keluar dari fikiran saja Jika orang yang kau cintai menangis,engkau akan ikut menangis…

Jika orang yang kau sukai menangis, engkau hanya menghibur saja… 
Perasaan cinta itu dimulai dari mata..sedangkan rasa suka dimulai dari telinga…
Jadi jika kau mau berhenti menyukai seseorang,cukup dengan menutup telinga. 

Tapi apabila kau mencoba menutup mata dari orang yang kau cintai,cinta itu akan berubah menjadi tetesan air mata dan terus tinggal dihatimu dalam jarak waktu yang cukup lama… Tetapi ada lagi rasa selain cinta dan suka…
Suatu rasa yang lebih dalam dari segalanya… 
Yaitu rasa sayang…..
Rasa yang tidak akan hilang secepat rasa cinta. Rasa yang tidak akan mudah berubah Perasaan yang dapat membuatmu berkorban untuk orang yang kamu sayangi. Dan Engkau akan siap menderita untuk orang yang kamu sayangi… 
Cinta ingin memiliki…

Tetapi sayang hanya ingin melihat orang yang disayangi bahagia…… ……
walaupun harus kehilangan ^_^....

Harapan

Harapan


BISMILLAHIRROHMANIRROHIM

Nafas tersengal memikul beban yang teramat be
rat,
Hidup yang sarat dengan perjuangan takkan pernah terhenti meski kita sudah tak mau menjalaninya...

Hidup tetap akan teruuus berjalan meski kita enggan melaluinya.
Hidup akan selalu berputar meski kita berhenti atau mencoba menghentikannya.
Karena sesungguhnya bukan kita yang mengatur kehidupan ini,bukan kita yang menentukan,tapi Allah yang di atas sana
yang mengatur segalanya untuk kita...


Hidup adalah sebuah perputaran waktu,tempat,dan kejadian yang akan kita temukan dalam setiap potongannya.
Banyak yang harus kita pelajari dari hidup ini agar kita bisa keluar dengan hati yang bahagia dan tenang atas setiap polemik dan kesulitan yang tiap saat akan datang...

BELAJAR memahami hidup dengan hati yang penuh ketulusan,kesucian dan ketundukan..

SeJauh mana pun hari2 yang kita lalui, JANGAN pernah berhenti berharap dari pertolongan ILAHI ROBBY...

Karena Harapan adalah sumber KEKUATAN...

Karena DOA adalah pintu kEbaikan dan Senjata orang beriman..

DOAku..HARAPANku,
______fhr♥______
TERSENYUM, BERDOA, BERSYUKUR...selalu sahabatku.

Al-Qur'an mengajarkan kita untuk berdo'a:
”Ya Rabb kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami bersalah. Ya Rabb kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Rabb kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami....
______________________________

Mengeluh

                                                             MENGELUH
1. Hari ini sebelum kamu mengatakan kata-kata yang tidak baik, pikirkan tentang seseorang yang tidak
dapat berbicara sama sekali.
2. Sebelum kamu mengeluh tentang rasa dari makananmu, pikirkan tentang seseorang yang tidak
punya apapun untuk dimakan.
3. Sebelum anda mengeluh tidak punya apa-apa, pikirkan tentang seseorang yang meminta-minta di
jalanan.
4. Sebelum kamu mengeluh bahwa kamu buruk, pikirkan tentang seseorang yang berada pada
tingkat yang terburuk di dalam hidupnya.
5. Sebelum kamu mengeluh tentang suami atau istrimu, pikirkan tentang seseorang yang memohon
kepada Allah untuk diberikan teman hidup.
6. Hari ini sebelum kamu mengeluh tentang hidupmu, pikirkan tentang seseorang yang meninggal terlalu
cepat.
7. Sebelum kamu mengeluh tentang anak-anakmu, pikirkan tentang seseorang yang sangat ingin
mempunyai anak tetapi dirinya mandul.
8. Sebelum kamu mengeluh tentang rumahmu yang kotor karena pembantumu tidak mengerjakan
tugasnya, pikirkan tentang orang-orang yang tinggal dijalanan.
9. Sebelum kamu mengeluh tentang jauhnya kamu telah menyetir, pikirkan tentang seseorang yang
menempuh jarak yang sama dengan berjalan.
10. Dan disaat kamu lelah dan mengeluh tentang pekerjaanmu, pikirkan tentang pengangguran,
orang-orang cacat yang berharap mereka mempunyai pekerjaan seperti anda.
11. Sebelum kamu menunjukkan jari dan menyalahkan orang lain, ingatlah bahwa tidak ada seorangpun yang tidak berdosa.
1. Hari ini sebelum kamu mengatakan kata-kata yang tidak baik, pikirkan tentang seseorang yang tidak
dapat berbicara sama sekali.
2. Sebelum kamu mengeluh tentang rasa dari makananmu, pikirkan tentang seseorang yang tidak
punya apapun untuk dimakan.
3. Sebelum anda mengeluh tidak punya apa-apa, pikirkan tentang seseorang yang meminta-minta di
jalanan.
4. Sebelum kamu mengeluh bahwa kamu buruk, pikirkan tentang seseorang yang berada pada
tingkat yang terburuk di dalam hidupnya.
5. Sebelum kamu mengeluh tentang suami atau istrimu, pikirkan tentang seseorang yang memohon
kepada Allah untuk diberikan teman hidup.
6. Hari ini sebelum kamu mengeluh tentang hidupmu, pikirkan tentang seseorang yang meninggal terlalu
cepat.
7. Sebelum kamu mengeluh tentang anak-anakmu, pikirkan tentang seseorang yang sangat ingin
mempunyai anak tetapi dirinya mandul.
8. Sebelum kamu mengeluh tentang rumahmu yang kotor karena pembantumu tidak mengerjakan
tugasnya, pikirkan tentang orang-orang yang tinggal dijalanan.
9. Sebelum kamu mengeluh tentang jauhnya kamu telah menyetir, pikirkan tentang seseorang yang
menempuh jarak yang sama dengan berjalan.
10. Dan disaat kamu lelah dan mengeluh tentang pekerjaanmu, pikirkan tentang pengangguran,
orang-orang cacat yang berharap mereka mempunyai pekerjaan seperti anda.
11. Sebelum kamu menunjukkan jari dan menyalahkan orang lain, ingatlah bahwa tidak ada seorangpun yang tidak berdosa.